Berpapasan dengan Masa Lalu
Posted onJuly 8, 2008
Filed under Kehidupan | 2 Comments
Baru delapan hari yang lalu aku terpikir seorang sobat yang cukup akrab tiga tahun silam. Seorang pejuang yang untuk kesekian kalinya terhempas dalam badai familiar yang senantiasa asing. Dia melepaskan pegangan jari-jari yang diberi pancang "harapan" (entah tentang apa), untuk kembali digusur buldoser bergemuruh "gile gak nyangka." Lalu mempreteli [hampir] semua yang berlabel "hubungan." Dengan sedikit paksa.
Atau semua di atas bisa salah, cuma sekedar analisa sok mahfum. Atau, kami tak sekarib yang kupikir. Bisa juga.
Yah, apapun itu. Aku kangen kisah dan buah pikirmu, pejuang.
Kemarin, bagian dari masa lalu yang lain muncul. Berpapasan namun tak kenal. Berpandangan tapi hanya dilengas. Malah sejujurnya aku tidak yakin, apakah itu benar dia: kilas belasan tahun. Di Singapura. Masa kini.
Tapi negara ini mini. Dibanjiri eksodus pencari kesempatan-lebih-baik dan kesembuhan-non-ilahi-namun-lebih-manusiawi. Kenapa mustahil?
"Hai, masa lalu. Kenalin, ini masa kini. Enjoy your stay, but don’t be too long :)"
Clingak-clinguk
Posted onMay 8, 2008
Filed under Ngeblog | Leave a Comment
Hehehe beneran cuman clingak-clinguk duank, ketepu yah
Dah lama gak ngeblog, sampe lupa kaya gimana gaya ngeblog ogut sendiri. Sibuk banget di kantor, herannya makin digempur makin semanget sekaligus makin banyak aja kerjaannya. Ntaran dah kapan-kapan diupdate lagi.
Atau mungkin update dikit dah bagi yang belum tahu: GT & Siska baru beli rumah. (Lagi proses sih).
Ta-ta.
Antara Kecoa Busuk dan Anjing
Posted onDecember 26, 2007
Filed under Film | Leave a Comment
Siapa yang pernah dengar "kecoa busuk" diumpatkan secara live? Maksudnya, bukan baca dari buku atau dengar di TV. Ada? Ada? Coba ngacung. … nggak ada?
Gimana dengan "anjing"? Ya, ya, selain kamu yang di sana, siapa lagi? Ya, ya, wah banyak ya. .. Hah gimana..? Dulu juga sering? Malah lebih kasar? Oh iya, iya *manggut-manggut*.
Konon kata "anjing" sudah biasa dikumandangkan di Bandung. Itu mah tidak kasar atuh.
Tapi kali ini saya bukan mau membahas tentang umpatan atau kata-kata kasar, melainkan tentang beda sinetron dengan film layar lebar Indonesia.
Jadi ceritanya kemarin ini saya ke Mustafa menemani ibundah tercintah dan sepupu yang sedang ada di Singapura. Kenapa ke Mustafa, saya sendiri juga kurang jelas. Di sana ketemu antena yang di sampulnya ada stiker gede bertuliskan "Receive Indonesian channels, TV2 and TV3. Only in Singapore." Setelah mendapat konfirmasi kalau barang bisa ditukar jika tidak bisa dipakai, saya beli juga. Sebenarnya 2 tahun lalu saya sudah beli yang pakai listrik dan ada boosternya. Cuma, tetap banyak semutnya. Mengingat sedang banyak penggemar sinetron, saya mau mencoba antena baru.
Ternyata berhasil. Semutnya hilang. Penonton tidak kecewa. Antena tidak perlu dikembalikan.
Mutiara, Safira, Cahaya, Kasih. Dari jam 7 malam (kalau nggak salah) sampai 11:30, di RCTI. Sinetron berbeda dari production house yang sama (kalau nggak salah lagi).
Saya? Ya saya ikutan nonton lah.
Gimana pengalamannya setelah sekian lama jarang banget nonton TV dan sekarang langsung dibombardir dengan sinetron Indonesia? Yah.. gimana yah. Yah.. begitulah. Hehe.
Tadi sempat chat dengan dua rekan (yang tidak saling kenal di session paralel yang berbeda) di tengah-tengah kegiatan saya mencari ilmu (baca blog) sambil nonton TV. Kebetulan Natal ini saya di rumah saja. Ngaso, begitu.
O iya.. Merry Christmas dulu doong…
Kembali ke nonton TV.
Iya, heran, kenapa anak-anak muda (SMP-SMA) sekarang digambarkan tukang marah-marah, terlalu serius soal cinta, selingkuh, patah hati, dan terhadap dirinya sendiri. Akting yang over. Plot yang gampang tertebak. Twist yang sama gampangnya diduga. Paparan yang kelewat gamblang. Membodohi dan menganggap bodoh penontonnya.
"Sinetron. Smarter than YOU." Kira-kira begitu yang saya dumelkan pada dua rekan chatting saya tadi.
Dan.. "Kecoa busuk, keluar kamu dari rumah ini!"
Oh. My. Goodness. "Kecoa busuk".
Seingat saya mobil-mobil yang dipakai berplat B menandakan setting berada di Jakarta. Saya sejujurnya nggak tahu apakah di daerah lain "kecoa busuk" itu salah satu cercaan kemarahan yang favorit. Tapi sejak lahir saya tinggal di Jakarta, berapa kali ya saya pernah mendengar serapah dengan kata ini? Hmm, NOL. Nggak pernah. Sebentar, saya merem dulu.
…
…
…
"Rotten cockroach, get out of my house!???" Rotten cockroach?????? Aarrrgh tidaaaaak…. terlalu inovatif buat otak saya untuk memproduksi kata-kata ini seandainya saya marah sekali. I pity the actors.
Di sisi lain, saya menikmati momen-momen ketika pemain yang kawakan seperti Meriam Bellina berceloteh dengan kespontanan yang alami, disertai dengan slang-slang jadul yang sudah langka terdengar. Tampaknya kerangka besi sinetron yang kaku tidak menjadi kungkungan baginya. Atau waktu pemain-pemain muda ‘beruntung’ mendapatkan karakter yang cocok dengan diri mereka sehingga lebih ‘mudah’ diperankan.
Kenapa tidak "Anjing, keluar luh dari rumah ini!" kalau memang marah? Itu kan lebih realistis. Ya, ya, saya mengerti ini mungkin tata tertib di dunia persinetronan.
Tapi kenapa "gue sayang sama elo, tau nggak sih loe!??" dengan tampang over serius oleh ABG boleh hadir di sinetron? Entahlah, mungkin cuma preferensi yang berbeda. Mungkin dulu semasa SMP/SMA dulu saya sendiri juga begitu ya. Rasanya aneh juga kalau biasanya menggunakan "gue-elo" tiba-tiba waktu mau nembak, nggak angin nggak hujan, bilang "saya suka sama kamu." Hehehe.
Sidetracking sedikit. Kelihatannya tiap angkatan memang punya panggilan khusus yang berbeda. Angkatan di atas saya (maksudnya 5-10 tahun di atas), biasanya langsung memanggil nama dan "aku/saya-kamu". Atau yang sudah biasa/lama di Singapore dengan "dear" atau "honey" ("darling" kelihatannya jauh lebih di atas lagi). Sedangkan angkatan saya ke bawah, pakai "yang", "sayang" dan "aku/saya-kamu" atau nama kecil/sayang kalau mau cute. Kelihatannya yang lebih di bawah lagi menggunakan "yang/sayang" dan "gue-elo". Buat saya, "Yang, elo udah makan belom," itu teh kasar pisan.. Yah memang beda-beda eui.
Sekarang tentang film layar lebar. Naaah.. kalau layar lebar, film-nya asik-asik. Dijajarkan dengan sinetron, seperti langit dan bumi. Lebih relevan, plot dan twist lebih nendang, punchline, obrolan dan, ya, umpatan lebih fresh dan realistis. "Anjing, jangan kabur loe!!" tidak diganti dengan "kura-kura keparat" atau sejenisnya. Kebayang nggak sih kalau kepala preman Kemanggisan marahnya pakai "keledai laknat??" Bisa turun tahta digebugin anak buahnya tuh. Nggak sekalian aja "baling-baling bambu.."
Selama dua hari ini antena baru lumayan berjasa. Film "Jomblo" yand diadaptasi dari novel karya Adhitya Mulya diputar kemarin siang dan "Catatan Akhir Sekolah" baru saja selesai. Cerita CAS mungkin masih sedikit tidak realistis namun tetap fresh. Sedangkan "Jomblo"… chat partnerku tadi bilang novelnya ada di Library nih. Kocak abis. Dan fresh. Dan realistis. Dan tidak menganggap audiensnya bodoh.
Sebenarnya saya nggak berharap yang muluk-muluk. Cerita sinetron boleh klise, itu-itu lagi, bahkan tidak realistis sekalipun. Asal dialognya fresh dan membumi, saya sudah cukup puas. Contohnya "Doel Anak Sekolahan".
Mungkin juga keadaan sinetron Indonesia sekarang sudah begitu komoditif. Menurut penuturan Lidya Kandou pada anaknya yang pemeran sinetron, main film jaman sekarang jauh lebih mudah daripada jaman dulu. Satu-dua kali take, bungkus. Sedangkan dulu, satu scene bisa puluhan kali take agar sempurna. Yah maklum, sinetronnya running setiap hari berdurasi 1.5 jam termasuk iklan.
Coba kalau ada film layar lebar yang menceritakan kehidupan seputar pembuatan sinetron Indonesia. Mudah-mudahan bisa menendang tepat di pantatnya dengan keras.
Cerita Setengah Pendek bagian 3
Posted onDecember 16, 2007
Filed under Menulis | Leave a Comment
Jam 11:35 lagi. Malam. Crazy deadline, not to mention crazy client. And crazy bosses. Oh well, the bosses are not really that crazy, everyone’s just getting pressurized. Anyway memang nggak ada yang maksa gue harus pulang jam segini. Cuma, seperti biasa: nanggung. Uh, harus cepat berberes, kalau nggak bisa ketinggalan MRT lagi.
"What, you’re going to stay back again tonight? C’mon, Hendra, it’s your last week. Just do as needed and don’t overdo it!" saran teman-teman setim gue tadi sore. Mereka semuanya sudah tahu hari terakhir gue adalah Jumat ini. Ya gue cuma bilang, lihat aja ntar, begitu.
Wah, untung bisnya pas datang. Thanks, Lord. And now I hope the last train will wait for me, too.
Well, it does. 4 more minutes.
SMS atau nggak. SMS atau nggak. SMS.. atau nggak.. Nggak aja kali ye, ntar dia mikir macem-macem lagi.
Tapi.. SMS aja kali ye, biasanya jam segini juga masih SMS-an.
Ah elo Dra, jadi pusing-pusing begini. It’s not like you have some crush on her or something. She’s just cute. And although you do like girl being cute, you’re best buddies. Best buddies SMS each other ’til late at night without worrying mistakening the other’s feeling. Not Ratna, for sure. She’s just nice… and cute. Not everyone’s cute, but ‘my’ type of cute.
Heran, kepikiran dia terus belakangan ini. Apa karena gue mau keluar ya? And for some reason, we just got closer than before. Tapi padahal tiap minggu di gereja juga ketemu. Atau karena gue bakal pulang Sabtu depan? I miss her already? Miss her for what??? Miss her like I missed hanging out with Anto, Juned and Shelly?
Mereka juga sih rencana pulang nggak bilang-bilang. Jadinya tinggal gue berdua yang masih tertinggal. Hehe memang kampungnya beda sih.
Oh well, the train’s here. I’m too tired to type on this slower-than-yours phone. And to think and worry too much tonight. Let’s not do that. Maybe I’ll just drop by some florist before work tomorrow, and schedule a bouquet for her a week after I leave. No sender’s name, of course. This way I can cheer her up for the loads of work she needs to get done. Let her have some secret admirer or guess whether I or Anto send it for her.
Yeah, seems like a good plan. Hoaeem..
Cerita Setengah Pendek bagian 2
Posted onDecember 14, 2007
Filed under Menulis | Leave a Comment
"Ratna, it’s superb! I really like the color composition. You are really talented! It would be perfect, however, if the logo is bigger and the fonts are changed to something more formal. Do you think you can change them and have it ready for the presentation tomorrow?"
Yah, sudah hafal deh: pasang tampang ceria, muji-muji, manggut-manggut, kritik, minta halus tapi maksa, jadinya harus besok. Nggak mungkin dong aku bilang "no can do, boss?" Kalau dipecat susah nyari kerjaan selama masih pegang S-Pass begini. Resiko.
Ambil sisi bagusnya, untung presentasinya bukan pagi. Dan lusa aku sudah cuti menemani Tasya yang dikirim training ke sini oleh kantornya. Jadi juga si ucrit datang ke Singapore. Ayo, semangat!
"Hehe disuruh ganti lagi ya? Lain kali bilang aja nggak mau.." celetuk Hendra, satu dari empat orang Indonesia di kantor ini. Hei, satu hal lagi yang patut disyukuri, walau gaji tidak fantastis, paling nggak I have great colleagues! Hmm, menghibur diri sendiri nih, hihi.
"Iya maunya sih gitu, tapi gue kan karyawati yang baik, nurut atasan," ujarku dengan tampang ’sesuci-sucinya’.
"Hahaha.. paling sejam lagi elo udah ngegerendeng sendiri, Rat," cengir Hendra, "Tapi ntar gue beliin cappuccino deh kalau elo udah mulai suntuk."
"Asiiik… bener loe yah, janji." Hendra cengengesan lagi.
Memang paling enak punya temen perhatian model si Hendra ini. Anaknya ngocol tapi baik. Di satu sisi pemikir berat, di sisi lain kadang suka bikin bingung dengan kecuekannya. Namun dia nggak pernah marah atau sebal, minimal denganku. Dimintai tolong apa saja mau. Padahal orangnya tipe malas-malasan begitu.
Platonic.
Heh, platonic? Hiiy serem. Masa sih aku dan Hendra punya hubungan yang platonic?? "It’s complicated," begitu? Hahaha, nggak banget deh. Masih terlalu dini untuk punya relationship dengan cowok. Yap, terlalu dini.
Hmmph, tuh kan jadi keingetan Niko lagi. Udah ah, konsentrasi kerja. Ingat, sebentar lagi Tasya datang, bisa error bareng-bareng. Dan mungkin aku kenalin aja ke Hendra, kayanya cocok.
Cerita Setengah Pendek
Posted onDecember 10, 2007
Filed under Menulis | 21 Comments
Mataku memejam.
Keramaian masih membekas di jalan ini. Bahkan, sebenarnya baru setengah jam yang lalu restoran terakhir membereskan tendanya. Belum pagi, memang. Lampu kuning jalanan temaram di ketinggian. Beberapa orang masih lalang dengan tidak bergegas. Nasi tektek ngetem di mulut jalan kecil yang satu lagi. Pemandangan yang biasa.
"Hei, kamu diem lagi, Na."
Aku cuma tersenyum kecil. Mau apa lagi. Sobatku ini lebih daripada mengerti apa yang aku pikirkan sekarang. Kejadian sembilan bulan lalu dia juga tahu.
Waktu itu aku tidak menangis. Walau aku tahu Tasya menyiapkan bahunya untukku, yang keluar dari mulutku hanya kalimat pendek, "Aku sudahan dengan Niko." Lalu kami berdua diam. Lama sekali.
"Singapura pasti panas seperti Jakarta. Dan jaketku cuma berguna di ruangan AC." Dingin memang malam ini. I love Bandung for this. I love Bandung for Tasya, too. Dia hampir selalu berhasil mengalihkan perhatianku.
"Ya nggak juga kok. Nih buktinya bau asem karena selalu kupakai jalan ke Orchard siang-siang. Mau bukti?"
Tasya nyengir. Dan mencium keteknya sendiri sebelum membandingkannya dengan jaket abu-abu di bahuku. Lalu kami berdua cekakakan. Dasar anak gila.
—
Ceritanya mau nulis cerpen, tapi baru segitu aja sudah sejam. Hehe maklum nggak ada bahan setengah ngarang setengah nebak. Ya ntar kalau sempet dan niat, dan kalau tebakannya asik dilanjutin lagi dah.
Copy protection pada software
Posted onFebruary 25, 2007
Filed under Pemrograman | 2 Comments
Di sebuah milis ada yang bertanya tentang software copy protection. Berikut ini adalah reply saya (yang terlanjur kepanjangan dan merasa sayang kalau tidak diblog)
> iya…kepikirannya sih maen di coding aja… or di satu file tertentu (.INI file) trus di umpetin di folder tertentu, tp pasti akan tetep ke detect klo usernya jago. Ada ga yah cara lainnya?
Cara-cara lain banyak. Namun sebelumnya, perlu dipahami keadaan/kenyataan tentang software copy protection.
SEMUA software copy protection bisa dijebol sehingga program bisa dikopi ke mesin lain dan dijalankan. Satu-satunya cara supaya tidak bisa dijebol adalah dengan membuat dua buah instance yang berbeda: full version dan partial version (physically crippled/incomplete). Tapi ini sebenarnya hanya metode distribusi, bukan murni termasuk mekanisme copy protection. Jika keberadaan instance yang full version sudah didapatkan, maka copy protection yang membuat software virtually crippled/incomplete/non-functional akan bisa dijebol.
Copy protection secara umum ada 2 jenis:
1. Semua informasi untuk mem-verifikasi kelegalan copy/instalasi dimiliki oleh copy/instalasi tersebut (tidak butuh akses ke hal-hal yang eksternal misalnya hardware dongle, customized/protected disc, validasi dari server external via Internet/dial-up). Penjebolan untuk jenis proteksi ini bisa cukup ‘memalukan’, yaitu program penjebol bisa menghasilkan/generate informasi yang seharusnya hanya bisa dihasilkan oleh produser aslinya. Contoh klasiknya adalah WinZip yang penjebolnya bisa menghasilkan pasangan user dan key yang dibutuhkan — istilah populernya: keygen (key generator).
2. Instalasi/copy butuh hal-hal eksternal. Proteksi ini bisa dijebol dengan 2 cara: a) Mengubah file program sehingga eksekusi untuk melakukan verifikasi akan selalu menghasilkan valid/benar. Ini biasanya disebut dengan: crack atau patch. b) Membuat simulasi/emulasi hal-hal yang eksternal tersebut. Misalnya untuk protected disc, dilakukan pencegatan terhadap system call yang mengakses disc/drive dan melakukan emulasi untuk memberikan hasil yang diharapkan oleh program. Untuk hardware dongle dan external server feedback, jika response yang diharapkan adalah sekedar ‘VALID’ atau ‘INVALID’, maka bisa dilakukan pencegatan juga. Namun jika yang diharapkan adalah kode-kode hasil enkripsi, akan sangat sulit untuk mengemulasinya atau melakukan cryptanalysis, terutama untuk external server feedback.
Ada satu lagi jenis proteksi yaitu hardware lock-in: copy/instalasi dibuat/kustomisasi secara khusus hanya bisa berjalan di konfigurasi komputer tersebut. Caranya: user mengirimkan konfigurasi komputernya (melalui program tertentu yang disediakan oleh produser) lalu produser melakukan kustomisasi khusus untuk user ini. Proteksi ini pada dasarnya adalah tipe yang kedua (bergantung hal eksternal) dan cara penjebolannya akan analogis dengan hardware dongle.
Para penjebol/cracker biasanya memiliki target yang level ‘kebanggaannya’ sebanding dengan kompleksitas penjebolan:
1. Time spoofing. Ini biasanya untuk instance yang full version namun dibatasi hanya bisa digunakan selama beberapa waktu (trial period). Penggunaan VMWare yang dipost rekan lain termasuk kategori ini walaupun bukan murni upaya penjebolan. Beberapa program yang kurang hati-hati bahkan bisa ditipu hanya dengan mengubah jam sistem secara sementara (pada awal loading saja, lalu dikembalikan ke jam sebenarnya). Penjebolan jenis ini pada umumnya tidak memiliki kompleksitas yang tinggi. Contoh yang aktual adalah penjebolan pada proteksi Windows Vista. Secara default, jika pada instalasi tidak dimasukkan key apapun, copy/instalasi akan masuk ke dalam evaluation/trial mode yang berlaku selama 30 hari. Periode 30 hari inipun sebenarnya bisa diperpanjang 3x lagi (total jadi 120 hari) menggunakan program yang disediakan Vista sendiri tanpa hack apapun. Penjebolan terakhir berhasil membuat Vista tertipu untuk selalu mengira baru digunakan 1 hari atau kurang.
2. Patching. Penjebolan biasanya hanya memerlukan pengubahan file pada sedikit tempat, yaitu pada saat verifikasi dilakukan. Untuk ini, penjebol hanya perlu mengamati tempat-tempat/waktu-waktu tertentu yang menjadi kandidat berlakunya verifikasi. Ini biasanya dilakukan dengan debugging tools tanpa harus melakukan reverse engineering yang terlalu banyak. Namun karena ada file yang diubah, para konsumen (pemakai hasil penjebolan) biasanya lebih memilih untuk memasukkan sendiri informasi/key yang dibutuhkan. Ini masuk kepada penjebolan berikutnya: key generator.
3. Key generator dan external factor emulation. Penjebolan ini kompleksitasnya paling tinggi. Supaya bisa menghasilkan informasi yang bisa diverifikasi secara normal (tanpa hack) oleh program, maka penjebol perlu melakukan reverse engineering untuk mengetahui bagaimana/algoritma program tersebut dalam melakukan verifikasi.
Dari paparan di atas, kesimpulannya adalah: semua proteksi bisa dijebol. Namun begitu, bukan berarti software tidak perlu diproteksi (pembahasan ini ruang lingkupnya adalah software komersial, bukan open source). Yang perlu dipikirkan dan diputuskan adalah: akan diproteksi sampai tahap mana dan terhadap siapa. Basis usernya sedikit atau banyak, fungsinya spesifik atau umum, kustomisasi bergantung pada keterlibatan produser atau minimal, ada trade secret atau tidak (copy protection berguna untuk deter/menurunkan niat untuk dikopi ke banyak orang sehingga kemungkinan jatuh ke tangan reverse engineer handal lebih kecil), dsb.
Jika ini adalah tugas kantor (software produksi perusahaan tempat kita bekerja), biasanya saya mulai dengan menjelaskan fakta bahwa tidak ada proteksi yang 100% aman dari penjebolan. Berikutnya, dianalisa penggunaan software tersebut sendiri dan dirembukkan sampai tahap apa kompleksitas proteksi yang dibutuhkan. Setelah diputuskan kemudian dibuat implementasi paling sederhana sebagai proof of concept (POC) pada tahap yang disetujui. Pengalaman saya, bersama dengan software protection, juga dibutuhkan verifikasi penggunaan jumlah user yang dilisensi (biasanya pada software yang server based) dan user registration (informasi nama, alamat, kontak, dll). POC bisa dilakukan secara sendiri-sendiri maupun terintegrasi. Pengalaman lagi, karena biasanya deadline mepet, POC sering naik statusnya jadi production code. Karena itu, dalam POC juga tidak bisa terlalu ‘culun’ proteksinya.
Sori jadi kepanjangan nulisnya. Mungkin bisa mulai dulu dari software yang akan diproteksi ini bagaimana akan digunakannya. Pelan-pelan dari situ bisa dianalisa kebutuhan proteksinya.
Jurnalisme Nggak Pernah Gampang
Posted onDecember 17, 2006
Filed under Ngeblog | Leave a Comment
Baru sebulanan ini saya join sebuah milis baru.. lagi. Ehm, kayak kurang banyak aja gitu milis yang udah di-subscribe
Tapi kali ini beda dan termasuk eye opener juga. Seperti judul kali ini, milis yang subscribe adalah tentang jurnalisme.
Milis ini ketemunya bener-bener nggak sengaja. Jadi, kronologisnya itu gini:
- Di milis yang lain, ada seseorang yang mengirimkan artikel nyeleneh berjudul "Teori Konspirasi Unyil". Yah, benar-benar ga penting gitu
- Karena ulasannya yang menyeluruh dan meyakinkan, alhasil saya dibawa jadi jadul dan iseng nyari informasi lebih lanjut tentang Unyil.
- Dari hasil pencarian, ternyata dibawa masuk ke salah satu blog yang tak lain tak bukan adalah seputar jadul. Nama blog-nya lapanpuluhan. Udah ketebak dong, ini blog tentang apa?? Perhatian: jangan kunjungi jika Anda memang sudah umurnya dan tipe-tipe yang suka nostalgila. Ntar lama di situ. Dari sini aja udah langsung ketemu milisnya dan settt.. subscribed.
- Arsip artikel-artikelnya langsung memutar pita-pita rekaman yang udah lama nggak diputar lagi di kepala. Tiba-tiba inget tentang majalah-majalah jadul termasuk tabloid yang sempet pemimpinnya sempet dipenjara karena kontroversi masalah angket, yaitu Monitor.
- Dari iseng mencari tentang kasus Monitor, alih-alih jadi nyasar ke salah satu blog jurnalis yang memuat interview dengan Mas Wendo, yang dulu ditahan itu.
- Nah dari blog jurnalis tersebut, ketemu deh link ke milis jurnalisme. Dan settt.. subscribed juga. Tapi subject to approval lho.
Lalu mulailah saya pelan-pelan diekspos dengan kenyataan bahwa menulis itu nggak gampang. Yup, bahkan nggak pernah gampang.
Sebenarnya menulis sih nggak terlalu susah. Apalagi sekarang, jamannya blog. Publikasi juga gampang. Istilah "media" pun jadi divergen. Menulis jadi "gampang". Dan ini salah satu basis saya menulis artikel ini: it’s perceived way too easy that it’s almost always taken for granted. Almost always.
Hehe, agak-agak strong sih kalau saya bilang "hampir selalu". Tapi ini cuma emphasis. Yang lebih saya maksudkan adalah: menulis itu ternyata ribet, ruwet, teknis tapi nyeni. Pun begitu, tingkat kecuekan dalam menulis bebas (ngeblog, milis) menurut saya kelewat tinggi. Memang akan selalu ada garis-garis tegas yang memilah jurnalisme dan bukan, seperti yang sempat saya bahas sebelumnya.
Ngomong-ngomong, ngeblog soal ngeblog apa nggak termasuk gak penting sih? Hehe, bisa jadi. Bisa jadi saya memang terlanjur hobby jadi pembawa informasi layanan masyarakat
Kalau sekarang saya nulis tentang nulis, sama sekali nggak berarti saya jadi jago nulis. Wuih, masih jauh ke mana-mana. Justru saya malah mau mberi tahu bahwa saya nulisnya mah masih parah-parah aja. Tapi saya tetep aja nulis gitu lho
Ngikutin posting-posting dari peserta milis jurnalisme (yang kebanyakan memang jurnalis dan wartawan) buat saya sangat mengasyikkan. Saya termasuk penikmat tulisan-tulisan yang bagus, beralasan, terstruktur, juga debat sehat. Lewat milis ini, saya menyaksikan bagaimana susunan grammar dan ejaan yang nggak terlalu dipusingkan salah, tetap bisa secara efektif dipakai untuk menyampaikan tulisan dengan bobot seorang jurnalis. Apalagi pengalaman berinternet dan bermilis yang menahun sudah mulai terasa jenuh dengan posting-posting pengguna baru (dan lama) yang kerap tidak netis. Di samping tulisan-tulisan bagus, ada juga bonusnya: cerita di balik berita.
Nah, soal cerita di balik berita, baru saja ada topik hangat nih. Thread-nya sudah 25 post lebih untuk subyek yang sama. Jadi ada seorang jurnalis yang mendapatkan informasi tentang suatu topik. Ah, langsung saya sebut aja ya topiknya: poligami. Nah kan masih anget tuh. Jurnalis ini singkat cerita berhasil mendapatkan informasi dan menuliskan beritanya. Ternyata ada cerita lain selama proses pencarian beritanya ini berlangsung. Permasalahannya, dia membagi pengalamannya ke milis, sementara narasumber sempat mengeluarkan pernyataan Off The Record (OTR). Yang menarik adalah, ternyata peserta milis terbagi dalam beberapa kubu: yang mengecam posting bahan OTR ke milis, yang mendukung posting OTR karena menilai OTR-nya kurang sah, ada yang menganggap milis bukan media massa sehingga bahan OTR boleh-boleh saja masuk ke milis, dan yang terakhir adalah yang enjoy-enjoy aja dapet informasi tambahan tapi nggak gitu paham teknis jurnalisme, yaitu pihak-pihak yang seperti saya
Sampai sekarang masih dalam pembahasan terus dan menurut saya alasan dari masing-masing kubu lumayan masuk akal dan bisa diterima. Jadi, belum tahu nih kesimpulannya gimana atau bahkan apakah bisa disimpulkan atau nggak. Semisalnya disimpulkan sah-sah aja bahannya disampaikan dan OTR-nya sendiri kurang sah, saya janji deh bakal sampaikan apa sih cerita di balik beritanya. Dibilang heboh sekali ya juga nggak sih. Tapi dibilang nggak heboh, ya lumayan juga sih hehehe..
Yang jelas, jurnalisme memang nggak gampang. Nggak pernah.
Tak Pernah Tertidur
Posted onNovember 2, 2006
Filed under Kekristenan, Lagu | Leave a Comment
Tak Pernah Tertidur
(c) Franky Sihombing
Saat ini ku datang
Membawa keluhku padaMu
Sungguh berat beban yang
menghimpit hati dan jiwaku
Kucurahkan s’luruh isi hatiku
Dan kudengar suaraMu berkata padaku:
Ku tak pernah tertidur
Ku tak pernah lalai
Tanganku s’lalu menopang dirimu
Percayalah padaku
Datang padaku
Ku s’lalu setia padamu
Saat kau tinggalkan
Ku s’lalu setia padamu
Saat kau melupakan
Ku s’lalu menunggumu kembali
Download Lagu (MP3, self-recorded, 2.07 MB)
—
Bukan kebetulan kalau saat ini saya juga belum tidur. Masih ada beberapa hal yang menggantung dalam pikiran. Hanya, karena hiatus beberapa bulan, nggak terlalu mudah rasanya untuk ngeblog. Apalagi topiknya cukup berat dan bisa sensitif, entah kapan bakal ditulis.
Lagu ini terkesan cengeng, sekilas nggak kebayang The Almighty bisa benar-benar mengatakannya. Tapi bagi yang mengalami jumpalitannya roller coaster hidup, di saat adrenalin menurun, sungguh kata-kata ini bisa terdengar. Seberapa sayup pun. I did.
I do.
Blogging dan tanggung jawab
Posted onJuly 6, 2006
Filed under Ngeblog | 2 Comments
Tulisan saya kemarin di-reply oleh sepupu saya yang masih belia (hehe):
tp.. namanye esmosi.. masa ada posting noel kita, kite diem aje.. embat balekkk broo!! ^O^
Karena panjang, reply saya berikut ini jadi tulisan yang baru:
Istilah "darah muda" atau "folly of one’s youth" itu ada bukan untuk menyudutkan orang-orang yang masih muda, tapi memang sejalan dengan waktu, ketika melihat ke belakang, sungguh kita bakal sering ngomong: "Duh, coba dulu gue gak gitu ya."
Itu pertama. Yang kedua, soal korespondensi di Internet, khususnya yang bisa dibaca publik (bukan japri) seperti blog dan forum/milis. Kita kadang lupa/cuek bahwa setiap post/reply yang kita buat itu konsumsi publik. "Everyone is entitled to her own opinion" itu benar tapi "Everyone is also to be held accountable to what she said or did". Apalagi dengan blog,
Sudah beberapa lama ini ada beberapa pihak yang "memusuhi" blog. Kenapa? Karena ternyata blog itu influential. Blog-blog yang populer bisa memperoleh 10-50 ribu pembaca setiap posting-nya. Ini baru blog individual. Tapi apa artinya sih 50 ribu dibanding jutaan pembaca, katakanlah, koran Kompas? Banyak artinya. Dalam blogosphere (dunia blogging), pembaca blog biasanya membaca banyak blog sekaligus. Kalau dia seorang blogger juga, maka hal-hal yang dia anggap menarik akan dia post dalam blognya. Begitu juga orang-orang yang membaca blognya. Demikian seterusnya sehingga dengan efek berantai, orang lain yang walaupun hanya pembaca pasif (bukan blogger), bisa menangkap "trend" atau opini "publik" tentang suatu hal. Sebuah blog dengan "hanya" 50 ribu pembaca sama sekali bukan suatu hal yang enteng.
Jadi kenapa "dimusuhi"? Ada dua alasan. Yang pertama mirip dengan media konvensional biasa, nggak setiap orang suka akan kolom gosip atau berita yang bisa merugikan kepentingan (perusahaan)nya, baik secara langsung maupun tidak langsung. Tentunya hal ini lumayan jelas bagi kita. Yang kedua, blog nyaris tidak diatur/teregulasi. Lho kok ngomong soal kontrol, sama dong alasannya dengan yang pertama? Nggak juga, ini dia yang sampai saat ini masih (dan akan terus) menjadi daerah abu-abu: blogging itu tidak sama dengan jurnalisme.
Banyak orang ngeblog untuk berbagai tujuan, ada yang sekedar untuk curhat (kepada siapa? teman-teman doang? lha kok gak di-protect sehingga hanya bisa dikonsumsi kalangan sendiri aja), ada yang menulis jurnal kesehariannya, ada yang menulis topik-topik khusus, ada juga yang secara langsung berkeinginan untuk membentuk opini publik. Khusus untuk yang terakhir, membentuk opini publik, ini nggak perlu melulu mengenai topik-topik besar: perang, politik, gempa, dsb. Yang saya maksud dengan membentuk opini "publik" ini bisa saja untuk masalah-masalah pribadi atau kelompok. Krusialnya, karena yang nulis adalah individu, masalahnya individu, awalnya ditujukan untuk konsumsi individu/kelompok, plus "everyone is entitled to his own opinion" yang tadi, banyak yang menganggap ini kan "terserah-terserah gue dong, gue yang nulis, sapa suruh elo baca" dan efek akhirnya ya itu, "Duh, coba dulu gue gak gitu ya" yang tadi juga.
Yang menjadi masalah utama menurut saya adalah: blog kita itu (bisa) dibaca oleh publik. Ketika sesuatu menjadi publik, dia menuntut atau memiliki kandungan tanggung jawab lebih daripada hal-hal yang sifatnya private. Inilah inti alasan yang kedua: kurangnya kepedulian akan rasa tanggung jawab untuk setiap post yang dibuat. Bandingkan dengan jurnalisme, you get the picture.
Wah repot bener kalo gitu, saya kan ngeblog buat hobby aja, kok musti diatur-atur kaya gitu?
Nggak juga, seperti yang saya bilang di atas: ini masih (dan akan terus) menjadi daerah abu-abu. Tentu saja blogging tidak akan pernah 100% sama dengan jurnalisme. Yang mau saya imbuhkan di sini cuma: be accountable, gunakan "akal sehat", pelihara "emosi" yang baik - dalam sikon apapun. Itu adalah blog Anda SENDIRI, tulisan Anda SENDIRI. Yang akan dibaca oleh banyak orang. Yang akan mempengaruhi banyak orang. Yang akan mempengaruhi diri Anda sendiri juga.