Melihat karakter seseorang saat di restoran

Saya telah membaca blog waiterrant.net dengan setia sejak 3 bulan terakhir ini dan senantiasa dijamu dengan baik dan dididik (secara samar) oleh tulisan-tulisannya. Post terakhirnya kurang lebih menunjukkan hal itu (soal didikan):

CEOs say how you treat a waiter can predict a lot about character
(USA Today, 14 Apr 2006)

Office Depot CEO Steve Odland remembers like it was yesterday working in an upscale French restaurant in Denver.

The purple sorbet in cut glass he was serving tumbled onto the expensive white gown of an obviously rich and important woman. “I watched in slow motion ruining her dress for the evening,” Odland says. “I thought I would be shot on sight.”

Thirty years have passed, but Odland can’t get the stain out of his mind, nor the woman’s kind reaction. She was startled, regained composure and, in a reassuring voice, told the teenage Odland, “It’s OK. It wasn’t your fault.” When she left the restaurant, she also left the future Fortune 500 CEO with a life lesson: You can tell a lot about a person by the way he or she treats the waiter.

(baca lebih banyak insight dari sumbernya…)

Ini bukan untuk menunjukkan betapa mulianya saya sebagai seorang manusia, tetapi sejujurnya saya lega dan bangga karena orangtua saya berhasil membesarkan anak-anaknya untuk tidak memiliki "situational value system", seperti yang dicetuskan salah satu CEO.

Sebagai seorang Kristen, kita dilarang untuk menghakimi orang lain. Ah, ini juga berlaku bagi pemeluk kepercayaan lain. Tetapi menebak karakter seseorang adalah kemampuan yang perlu dimiliki banyak orang selama mereka masih hidup di bumi ini (dan berinteraksi satu sama lain). Banyak keputusan yang memerlukan pengamatan yang baik tentang pihak-pihak yang berkaitan. Dan mengamati bagaimana seseorang memperlakukan pelayan restoran akan memberikan gambaran tentang dirinya secara jujur.

Ngomong-ngomong, adik saya juga di dalam industri F&B. Mungkin juga ini sebabnya mengapa saya cenderung melihat pekerjaan waiter dari sudut yang sedikit berbeda dari banyak rekan-rekan saya. Bukan maksudnya mereka memperlakukan waiter dengan buruk lho, cuma "beda" :) Saya selalu melihat adik saya dalam diri orang-orang yang melayani saat pergi makan. Satu hal yang masih belum bisa saya lakukan dengan sukses adalah memberi tip yang baik. Di Singapore, ada service charge wajib sebesar 10% dan di banyak restoran, Anda akan dilayani oleh lebih dari 1 waiter. Jadi, tidak ada gambaran yang jelas berapa banyak Anda harus memberi tip. Hehe, saya tahu ini alasan yang dicari-cari, sudah sepatutnya saya menambah 5-10% di atas 10% yang wajib tadi =P

Terima kasih buat tip-nya, Waiter.

Saingan baru Friendster: Google Romance

Sebenarnya nggak begitu tepat dibilang sebagai saingannya Friendster, karena arahnya lebih ke dating. Analisa saya, mungkin ketimbang membeli Facebook sebesar $2.1 milyar, Google lebih memilih untuk mengembangkan social networking-nya sendiri. Lagipula sudah ada Orkut di tangan, ngapain beli yang baru? Lebih baik pendayagunaan departemen R&D-nya dimaksimalkan.

Muncullah yang akan menjadi trend baru: Contextual Dating. Apa itu Contextual Dating? Berikut ini jawaban yang diambil dari bagian FAQ dari produk Google yang tergres: Google Romance.

6. What is Contextual Dating?
It’s a free date plus the added accrued value of the past decade’s worth of post-Industrial Age online marketing genius, all tied into a real-time, video-based, GPS-tracked, psychographically astute and environmentally pervasive promotional system.

Wuih, keren. Saya sendiri nggak ngerti maksudnya apa hehehe. Tapi setelah mengikuti tour yang disediakan, jadi lumayan paham. Silakan membaca sendiri agar lebih jelas.

Karena masih baru banget, saya iseng juga memasukkan profile saya ke sana. Lumayan, kalau Anda mencari "geek in singapore", saya sekarang no #1 nih ^_^

Kalau sampai saat ini masih belum ngeh juga, berarti: Selamat.. Anda dengan sukses telah dikerjain oleh Google beserta ratusan blogger lainnya dalam rangka April’s Fool.. ^___^