Jurnalisme Nggak Pernah Gampang
Baru sebulanan ini saya join sebuah milis baru.. lagi. Ehm, kayak kurang banyak aja gitu milis yang udah di-subscribe :P Tapi kali ini beda dan termasuk eye opener juga. Seperti judul kali ini, milis yang subscribe adalah tentang jurnalisme.
Milis ini ketemunya bener-bener nggak sengaja. Jadi, kronologisnya itu gini:
- Di milis yang lain, ada seseorang yang mengirimkan artikel nyeleneh berjudul "Teori Konspirasi Unyil". Yah, benar-benar ga penting gitu :)
- Karena ulasannya yang menyeluruh dan meyakinkan, alhasil saya dibawa jadi jadul dan iseng nyari informasi lebih lanjut tentang Unyil.
- Dari hasil pencarian, ternyata dibawa masuk ke salah satu blog yang tak lain tak bukan adalah seputar jadul. Nama blog-nya lapanpuluhan. Udah ketebak dong, ini blog tentang apa?? Perhatian: jangan kunjungi jika Anda memang sudah umurnya dan tipe-tipe yang suka nostalgila. Ntar lama di situ. Dari sini aja udah langsung ketemu milisnya dan settt.. subscribed.
- Arsip artikel-artikelnya langsung memutar pita-pita rekaman yang udah lama nggak diputar lagi di kepala. Tiba-tiba inget tentang majalah-majalah jadul termasuk tabloid yang sempet pemimpinnya sempet dipenjara karena kontroversi masalah angket, yaitu Monitor.
- Dari iseng mencari tentang kasus Monitor, alih-alih jadi nyasar ke salah satu blog jurnalis yang memuat interview dengan Mas Wendo, yang dulu ditahan itu.
- Nah dari blog jurnalis tersebut, ketemu deh link ke milis jurnalisme. Dan settt.. subscribed juga. Tapi subject to approval lho.
Lalu mulailah saya pelan-pelan diekspos dengan kenyataan bahwa menulis itu nggak gampang. Yup, bahkan nggak pernah gampang.
Sebenarnya menulis sih nggak terlalu susah. Apalagi sekarang, jamannya blog. Publikasi juga gampang. Istilah "media" pun jadi divergen. Menulis jadi "gampang". Dan ini salah satu basis saya menulis artikel ini: it's perceived way too easy that it's almost always taken for granted. Almost always.
Hehe, agak-agak strong sih kalau saya bilang "hampir selalu". Tapi ini cuma emphasis. Yang lebih saya maksudkan adalah: menulis itu ternyata ribet, ruwet, teknis tapi nyeni. Pun begitu, tingkat kecuekan dalam menulis bebas (ngeblog, milis) menurut saya kelewat tinggi. Memang akan selalu ada garis-garis tegas yang memilah jurnalisme dan bukan, seperti yang sempat saya bahas sebelumnya.
Ngomong-ngomong, ngeblog soal ngeblog apa nggak termasuk gak penting sih? Hehe, bisa jadi. Bisa jadi saya memang terlanjur hobby jadi pembawa informasi layanan masyarakat :P
Kalau sekarang saya nulis tentang nulis, sama sekali nggak berarti saya jadi jago nulis. Wuih, masih jauh ke mana-mana. Justru saya malah mau mberi tahu bahwa saya nulisnya mah masih parah-parah aja. Tapi saya tetep aja nulis gitu lho :)
Ngikutin posting-posting dari peserta milis jurnalisme (yang kebanyakan memang jurnalis dan wartawan) buat saya sangat mengasyikkan. Saya termasuk penikmat tulisan-tulisan yang bagus, beralasan, terstruktur, juga debat sehat. Lewat milis ini, saya menyaksikan bagaimana susunan grammar dan ejaan yang nggak terlalu dipusingkan salah, tetap bisa secara efektif dipakai untuk menyampaikan tulisan dengan bobot seorang jurnalis. Apalagi pengalaman berinternet dan bermilis yang menahun sudah mulai terasa jenuh dengan posting-posting pengguna baru (dan lama) yang kerap tidak netis. Di samping tulisan-tulisan bagus, ada juga bonusnya: cerita di balik berita.
Nah, soal cerita di balik berita, baru saja ada topik hangat nih. Thread-nya sudah 25 post lebih untuk subyek yang sama. Jadi ada seorang jurnalis yang mendapatkan informasi tentang suatu topik. Ah, langsung saya sebut aja ya topiknya: poligami. Nah kan masih anget tuh. Jurnalis ini singkat cerita berhasil mendapatkan informasi dan menuliskan beritanya. Ternyata ada cerita lain selama proses pencarian beritanya ini berlangsung. Permasalahannya, dia membagi pengalamannya ke milis, sementara narasumber sempat mengeluarkan pernyataan Off The Record (OTR). Yang menarik adalah, ternyata peserta milis terbagi dalam beberapa kubu: yang mengecam posting bahan OTR ke milis, yang mendukung posting OTR karena menilai OTR-nya kurang sah, ada yang menganggap milis bukan media massa sehingga bahan OTR boleh-boleh saja masuk ke milis, dan yang terakhir adalah yang enjoy-enjoy aja dapet informasi tambahan tapi nggak gitu paham teknis jurnalisme, yaitu pihak-pihak yang seperti saya :)
Sampai sekarang masih dalam pembahasan terus dan menurut saya alasan dari masing-masing kubu lumayan masuk akal dan bisa diterima. Jadi, belum tahu nih kesimpulannya gimana atau bahkan apakah bisa disimpulkan atau nggak. Semisalnya disimpulkan sah-sah aja bahannya disampaikan dan OTR-nya sendiri kurang sah, saya janji deh bakal sampaikan apa sih cerita di balik beritanya. Dibilang heboh sekali ya juga nggak sih. Tapi dibilang nggak heboh, ya lumayan juga sih hehehe..
Yang jelas, jurnalisme memang nggak gampang. Nggak pernah.

Comments