Antara Kecoa Busuk dan Anjing

Siapa yang pernah dengar "kecoa busuk" diumpatkan secara live? Maksudnya, bukan baca dari buku atau dengar di TV. Ada? Ada? Coba ngacung. ... nggak ada?

Gimana dengan "anjing"? Ya, ya, selain kamu yang di sana, siapa lagi? Ya, ya, wah banyak ya. .. Hah gimana..? Dulu juga sering? Malah lebih kasar? Oh iya, iya *manggut-manggut*.

Konon kata "anjing" sudah biasa dikumandangkan di Bandung. Itu mah tidak kasar atuh.

Tapi kali ini saya bukan mau membahas tentang umpatan atau kata-kata kasar, melainkan tentang beda sinetron dengan film layar lebar Indonesia.

Jadi ceritanya kemarin ini saya ke Mustafa menemani ibundah tercintah dan sepupu yang sedang ada di Singapura. Kenapa ke Mustafa, saya sendiri juga kurang jelas. Di sana ketemu antena yang di sampulnya ada stiker gede bertuliskan "Receive Indonesian channels, TV2 and TV3. Only in Singapore." Setelah mendapat konfirmasi kalau barang bisa ditukar jika tidak bisa dipakai, saya beli juga. Sebenarnya 2 tahun lalu saya sudah beli yang pakai listrik dan ada boosternya. Cuma, tetap banyak semutnya. Mengingat sedang banyak penggemar sinetron, saya mau mencoba antena baru.

Ternyata berhasil. Semutnya hilang. Penonton tidak kecewa. Antena tidak perlu dikembalikan.

Mutiara, Safira, Cahaya, Kasih. Dari jam 7 malam (kalau nggak salah) sampai 11:30, di RCTI. Sinetron berbeda dari production house yang sama (kalau nggak salah lagi).

Saya? Ya saya ikutan nonton lah.

Gimana pengalamannya setelah sekian lama jarang banget nonton TV dan sekarang langsung dibombardir dengan sinetron Indonesia? Yah.. gimana yah. Yah.. begitulah. Hehe.

Tadi sempat chat dengan dua rekan (yang tidak saling kenal di session paralel yang berbeda) di tengah-tengah kegiatan saya mencari ilmu (baca blog) sambil nonton TV. Kebetulan Natal ini saya di rumah saja. Ngaso, begitu.

O iya.. Merry Christmas dulu doong...

Kembali ke nonton TV.

Iya, heran, kenapa anak-anak muda (SMP-SMA) sekarang digambarkan tukang marah-marah, terlalu serius soal cinta, selingkuh, patah hati, dan terhadap dirinya sendiri. Akting yang over. Plot yang gampang tertebak. Twist yang sama gampangnya diduga. Paparan yang kelewat gamblang. Membodohi dan menganggap bodoh penontonnya.

"Sinetron. Smarter than YOU." Kira-kira begitu yang saya dumelkan pada dua rekan chatting saya tadi.

Dan.. "Kecoa busuk, keluar kamu dari rumah ini!"

Oh. My. Goodness. "Kecoa busuk".

Seingat saya mobil-mobil yang dipakai berplat B menandakan setting berada di Jakarta. Saya sejujurnya nggak tahu apakah di daerah lain "kecoa busuk" itu salah satu cercaan kemarahan yang favorit. Tapi sejak lahir saya tinggal di Jakarta, berapa kali ya saya pernah mendengar serapah dengan kata ini? Hmm, NOL. Nggak pernah. Sebentar, saya merem dulu.

...

...

...

"Rotten cockroach, get out of my house!???" Rotten cockroach?????? Aarrrgh tidaaaaak.... terlalu inovatif buat otak saya untuk memproduksi kata-kata ini seandainya saya marah sekali. I pity the actors.

Di sisi lain, saya menikmati momen-momen ketika pemain yang kawakan seperti Meriam Bellina berceloteh dengan kespontanan yang alami, disertai dengan slang-slang jadul yang sudah langka terdengar. Tampaknya kerangka besi sinetron yang kaku tidak menjadi kungkungan baginya. Atau waktu pemain-pemain muda 'beruntung' mendapatkan karakter yang cocok dengan diri mereka sehingga lebih 'mudah' diperankan.

Kenapa tidak "Anjing, keluar luh dari rumah ini!" kalau memang marah? Itu kan lebih realistis. Ya, ya, saya mengerti ini mungkin tata tertib di dunia persinetronan.

Tapi kenapa "gue sayang sama elo, tau nggak sih loe!??" dengan tampang over serius oleh ABG boleh hadir di sinetron? Entahlah, mungkin cuma preferensi yang berbeda. Mungkin dulu semasa SMP/SMA dulu saya sendiri juga begitu ya. Rasanya aneh juga kalau biasanya menggunakan "gue-elo" tiba-tiba waktu mau nembak, nggak angin nggak hujan, bilang "saya suka sama kamu." Hehehe.

Sidetracking sedikit. Kelihatannya tiap angkatan memang punya panggilan khusus yang berbeda. Angkatan di atas saya (maksudnya 5-10 tahun di atas), biasanya langsung memanggil nama dan "aku/saya-kamu". Atau yang sudah biasa/lama di Singapore dengan "dear" atau "honey" ("darling" kelihatannya jauh lebih di atas lagi). Sedangkan angkatan saya ke bawah, pakai "yang", "sayang" dan "aku/saya-kamu" atau nama kecil/sayang kalau mau cute. Kelihatannya yang lebih di bawah lagi menggunakan "yang/sayang" dan "gue-elo". Buat saya, "Yang, elo udah makan belom," itu teh kasar pisan.. Yah memang beda-beda eui.

Sekarang tentang film layar lebar. Naaah.. kalau layar lebar, film-nya asik-asik. Dijajarkan dengan sinetron, seperti langit dan bumi. Lebih relevan, plot dan twist lebih nendang, punchline, obrolan dan, ya, umpatan lebih fresh dan realistis. "Anjing, jangan kabur loe!!" tidak diganti dengan "kura-kura keparat" atau sejenisnya. Kebayang nggak sih kalau kepala preman Kemanggisan marahnya pakai "keledai laknat??" Bisa turun tahta digebugin anak buahnya tuh. Nggak sekalian aja "baling-baling bambu.."

Selama dua hari ini antena baru lumayan berjasa. Film "Jomblo" yand diadaptasi dari novel karya Adhitya Mulya diputar kemarin siang dan "Catatan Akhir Sekolah" baru saja selesai. Cerita CAS mungkin masih sedikit tidak realistis namun tetap fresh. Sedangkan "Jomblo"... chat partnerku tadi bilang novelnya ada di Library nih. Kocak abis. Dan fresh. Dan realistis. Dan tidak menganggap audiensnya bodoh.

Sebenarnya saya nggak berharap yang muluk-muluk. Cerita sinetron boleh klise, itu-itu lagi, bahkan tidak realistis sekalipun. Asal dialognya fresh dan membumi, saya sudah cukup puas. Contohnya "Doel Anak Sekolahan".

Mungkin juga keadaan sinetron Indonesia sekarang sudah begitu komoditif. Menurut penuturan Lidya Kandou pada anaknya yang pemeran sinetron, main film jaman sekarang jauh lebih mudah daripada jaman dulu. Satu-dua kali take, bungkus. Sedangkan dulu, satu scene bisa puluhan kali take agar sempurna. Yah maklum, sinetronnya running setiap hari berdurasi 1.5 jam termasuk iklan.

Coba kalau ada film layar lebar yang menceritakan kehidupan seputar pembuatan sinetron Indonesia. Mudah-mudahan bisa menendang tepat di pantatnya dengan keras.

                            

Dari GMB7, Jadi Ingat..

Lagi ngedengerin album Giving My Best yang terbaru, Nothing Is Ever Impossible. Sampai di track yang terakhir, You Are My God, entah kenapa mood-nya terset jadi ingat seri drama Korea yang ditonton semalam bareng istri: Wonderful Life. Hmm, mungkin karena aransemen musiknya yang sedikit meng-'anime'. Jadi terbayang musik-musik komposisi Yoko Kanno, hmm apa ya judulnya, koleksi lagu-lagu saya masih berceceran dalam hard disk-hard disk yang belum terpasang. Yang jelas suasana pantai (model theme song-nya Uncharted Waters 2: New Horizon) dan sedikit bernuansa celtic gitu. Hehehe.. kaya pakar musik aja ya gayanya =P

Album GMB yang tergres ini lumayan enak, beberapa lagunya easy listening, beberapa di antaranya 'semangat'. Tapi yang jelas, vokal Sidney Mohede memang top - vokalis lagu rohani pria yang paling saya suka suaranya. Apalagi di lagu terakhir, You Are My God, rasanya memang yang paling cocok dinyanyikan oleh Sidney. Btw bisa ke website Harvest untuk mendownload 2 buah klip mp3 di sana.

Lalu mengenai drama Korea? Hehehe, sudah 2-3 bulan ini suami-suami mulai terimbas demam K-Drama dari para istri. Saya sendiri sampai lost track yang mana yang saya sudah saya ikuti dan mana yang baru setengah, mana yang nggak nonton sama sekali. Wonderful Life ini sendiri cukup bagus dramanya, terutama si kecil Shin-bi (Xi Yu kalau di VCD terjemahan Indonesia yang saya tonton) itu cute sekali. Oh iya, di awal serinya sempat shooting di Singapore juga. Jadi ingat cerita Ruben waktu dia ke Korea:

  1. You need to reset your expectations of Korea from watching too much Korean drama.  By lowering your expectation, you will increase your satisfactory level.
  2. Koreans are very proud of their TV dramas being the latest craze in Asia.  It's their way to promote tourism to Korea, and I don't need to mention the pretty actresses / handsome actors as the main attraction as well.  But I guess all actresses are pretty and the non-actress are just so-so, Korean or not.

Hehehe.. melihat adegan-adengan mereka yang di-shoot di Singapore, saya kurang lebih juga setuju dengan Ruben: lumayan beda dengan Singapore yang sehari-hari saya saksikan dan hidupi ^__^

Tapi ceritanya sendiri lumayan bagus, sekilas terasa sedang menonton serial drama atau anime Jepang. Entah di plotnya atau di karakter-karakter yang ada. Jadi ingat Maison Ikkoku dan Love Hina. Atau bahkan Candy Candy hehehehe...

Hmm.. serba 'jadi ingat' semua nih. Jadi ingat perut sudah lapar, waktunya makan siang.