Menahan diri untuk bertanya

Sekitar tahun 2000-2001, ketika masih aktif di forum diskusi milik lembaga pendidikan tempat saya dulu bekerja, saya sempat terlibat diskusi hangat "melawan" seseorang yang menurut saya melakukan pemburukan nama baik salah satu staf (yang senior) di bagian lain. Waktu itu masalahnya sendiri dapat diselesaikan dengan cepat. Namun demikian, seorang teman sempat nyeletuk: "Elo sih Get, war melulu," yang sedikit-banyak mengindikasikan adanya damage yang terjadi.

Lalu saya mendapatkan sebuah saran yang sangat baik oleh salah seorang (bapak) senior yang masih saya ingat sampai sekarang:

"Jika menerima post yang membawa muatan negatif, jangan segera dibalas. Biarkan post itu selama 2 jam. Setelah 2 jam, baru kunjungi kembali post tersebut. Jika saat itu di hati masih terasa panas, terlepas siapa benar atau salah atau tidak 2-2nya, tunggu lagi selama 2 hari. Jika setelah 2 hari keadaannya masih sama, tunggu selama seminggu lagi."

Walau kadang saya suka "iseng", nasihat ini termasuk berjasa menyelamatkan saya dari beberapa insiden yang tidak perlu (dan memang tidak terjadi).
---

Terus terang, post ini saya tulis untuk mengingatkan diri saya sendiri. Beberapa perkara yang saat ini menurut saya sulit dimengerti, sementara ini mungkin yang terbaik adalah untuk tidak memperoleh penjelasan.

Atau bahkan jika "sementara" ternyata "selamanya", well.. I did say that I'm just a pail, didn't I?

Bertahanlah teman, engkau berhak memiliki jeda, sepanjang apapun itu.

Melihat karakter seseorang saat di restoran

Saya telah membaca blog waiterrant.net dengan setia sejak 3 bulan terakhir ini dan senantiasa dijamu dengan baik dan dididik (secara samar) oleh tulisan-tulisannya. Post terakhirnya kurang lebih menunjukkan hal itu (soal didikan):

CEOs say how you treat a waiter can predict a lot about character
(USA Today, 14 Apr 2006)

Office Depot CEO Steve Odland remembers like it was yesterday working in an upscale French restaurant in Denver.

The purple sorbet in cut glass he was serving tumbled onto the expensive white gown of an obviously rich and important woman. “I watched in slow motion ruining her dress for the evening,” Odland says. “I thought I would be shot on sight.”

Thirty years have passed, but Odland can’t get the stain out of his mind, nor the woman’s kind reaction. She was startled, regained composure and, in a reassuring voice, told the teenage Odland, “It’s OK. It wasn’t your fault.” When she left the restaurant, she also left the future Fortune 500 CEO with a life lesson: You can tell a lot about a person by the way he or she treats the waiter.

(baca lebih banyak insight dari sumbernya...)

Ini bukan untuk menunjukkan betapa mulianya saya sebagai seorang manusia, tetapi sejujurnya saya lega dan bangga karena orangtua saya berhasil membesarkan anak-anaknya untuk tidak memiliki "situational value system", seperti yang dicetuskan salah satu CEO.

Sebagai seorang Kristen, kita dilarang untuk menghakimi orang lain. Ah, ini juga berlaku bagi pemeluk kepercayaan lain. Tetapi menebak karakter seseorang adalah kemampuan yang perlu dimiliki banyak orang selama mereka masih hidup di bumi ini (dan berinteraksi satu sama lain). Banyak keputusan yang memerlukan pengamatan yang baik tentang pihak-pihak yang berkaitan. Dan mengamati bagaimana seseorang memperlakukan pelayan restoran akan memberikan gambaran tentang dirinya secara jujur.

Ngomong-ngomong, adik saya juga di dalam industri F&B. Mungkin juga ini sebabnya mengapa saya cenderung melihat pekerjaan waiter dari sudut yang sedikit berbeda dari banyak rekan-rekan saya. Bukan maksudnya mereka memperlakukan waiter dengan buruk lho, cuma "beda" :) Saya selalu melihat adik saya dalam diri orang-orang yang melayani saat pergi makan. Satu hal yang masih belum bisa saya lakukan dengan sukses adalah memberi tip yang baik. Di Singapore, ada service charge wajib sebesar 10% dan di banyak restoran, Anda akan dilayani oleh lebih dari 1 waiter. Jadi, tidak ada gambaran yang jelas berapa banyak Anda harus memberi tip. Hehe, saya tahu ini alasan yang dicari-cari, sudah sepatutnya saya menambah 5-10% di atas 10% yang wajib tadi =P

Terima kasih buat tip-nya, Waiter.

Pindahan dan perpisahan

Pagi tadi, pemilik apartemen yang sejak 1.5 tahun lalu kami sewa memberitahukan bahwa mereka memerlukan apartemen ini kembali awal bulan April mendatang, jadi kami harus pindah. Kami (saya dan istri) sudah menduga ini akan terjadi, cepat atau lambat. Bahkan, ketika pindah dari apartemen yang lama ke tempat ini, kami sejak awal pun sudah 'siap' jika harus pindahan lagi. Tentunya ini berlaku bagi siapa saja selama statusnya masih ngontrak.

Masalahnya, setelah bulan demi bulan berlalu, kami jadi terlanjur jatuh cinta dengan rumah ini. Lokasinya memang cukup strategis (daerah Holland V, 1 bus stop dari Commonwealth MRT, dekat ke Orchard dan CBD area), rumahnya sendiri yang walau mungil namun sangat nyaman untuk ditinggali (si Ciecie pemilik rumah ini sudah merawatnya dengan sangat rapi), dekat dengan banyak sahabat di gereja, dan lebih dari 60% masa pernikahan kami dihabiskan di rumah ini (1.5+ dari 2.5+ tahun :). Jadi, walaupun pindahan dan mencari tempat baru itu repot, bukan ini alasan yang membuat kita 'males' pindah.

Sebenarnya saya dan istri masing-masing sudah beberapa kali pindah rumah. Saya sendiri sejak kecil sudah 10 kali pindahan. Ada yang nyewa, ada yang beli (nyokap yang beli), bahkan pernah juga ngontrakin ke orang lain. Jadi mestinya sih sudah biasa.

Benar gitu, udah biasa? Nggak juga. Saya nggak pernah 'biasa' untuk pindah.

Sepanjang ingatan, setiap kali pindah, dari tempat yang lebih baik maupun ke tempat yang lebih baik, selalu meninggalkan rasa kehilangan di hati. Kadang sedikit, seringkali banyak. Dan setiap kali juga, banyak hal yang biasanya tidak begitu kita hiraukan, menjadi begitu bermakna ketika kita ada di tempat yang baru. Ya, juga ketika tempat barunya lebih baik. (Sampai sekarang saya kadang masih suka kangen makan Ban Mian dekat stasiun MRT Khatib, nonton malem-malem di GV dekat North Point Yishun, dan, ya, bahkan perjalanan dari Tg. Pagar ke Khatib yang super jauh itu. Dan daerah terbaik untuk tinggal di Singapore buat saya masih Balestier :).

Sejak pagi tadi saya banyak diam mikir. Saya telepon istri saya yang hari ini libur di rumah, dan responnya, "Saya udah duga." Hmm.. lumayan, bener kan tebakan saya kalau kami 'sudah siap'. Tambahnya, "Mungkin karena kita 'jorok' kali." Jeeehehe... nggak deh, walaupun saya akui kami nggak seteliti si Ciecie dalam merawat rumah, imvho kami masih jauuuuuuuhh dari jorok :D Anyway si Koko memberikan alasan yang dapat dimaklumi, singkat kata bukan untuk tawar-tawaran. Saya sendiri sebenarnya tidak keberatan untuk tambah uang sewanya, karena kami memang suka dengan rumah ini. Tapi saya nggak ingin membuat si Koko jadi serba salah, ditambah hubungan kami selama ini baik-baik saja dan 2.5 bulan notice itu sangat fair dan cukup untuk mencari tempat yang baru.

***

Entah kenapa pindahan kali ini membawa saya untuk berpikir banyak tentang perpisahan. Dalam banyak impresi, keduanya sangat mirip dan berhubungan. Mungkin banyak juga orang yang selama hidupnya jarang pindah-pindah, baik rumah, sekolah kantor, pekerjaan, dsb. Namun satu hal yang pasti, semua orang dalam hidupnya mengalami sekian banyak panggung perpisahan. Mulai dari lulus sekolah - pisah dengan teman2 akrab sejak kecil - sampai kematian anggota keluarga yang begitu dekat. Nggak bisa dihindari.

Ya, nggak bisa dihindari. Begitu nggak bisa dihindarinya sampai setiap orang bisa mengidentifikasi dirinya dengan perpisahan dan rasa kehilangan. Tidak perlu saya uraikan, siapapun mengerti apa artinya kehilangan. Bahkan bukan sekedar mengerti, banyak perpisahan yang begitu berat untuk dihadapi sampai beberapa orang memilih untuk lari sama sekali. Dari membenamkan diri dalam pekerjaan, mencari pelarian dalam hobby/obat, sampai.. bunuh diri.

Berpikir lebih jauh lagi, kehilangan itu terjadi karena tadinya 'memiliki'. "Sekolahku, rumahku, motorku, mobilku, hobbyku, uangku, sobat karibku, pacarku, suamiku, orang tuaku, anakku yang masih bayi, cucu kesayanganku, pekerjaanku, jabatanku, tangan kananku yang harus diamputasi, rambutku yang rontok karena kemoterapi, payudaraku yang harus diangkat, dsb.... jawaban doaku.."

Hal-hal yang sebelumnya bukannya tidak kita hiraukan, tapi jarang kita perhatikan (dan syukuri).
Hal-hal yang sangat berharga (dan kita syukuri).
Anugrah yang tidak layak kita terima, namun kita 'miliki'.
Bahkan yang tidak kita miliki, namun kesempatan untuk itu tidak ada sama sekali - Kesempatan yang 'hilang'.

***

Berpikir lebiiih jauh lagi, kita nggak pernah benar-benar memiliki sesuatu. Kita sih punya 'rasa memiliki' (sense of belonging), pasti. Beberapa hari ini saya merenungkan secara serius 'himbauan' dari CEO di kantor, "We need fiercely loyal employees." Setelah melewati 'roller coaster' yang serem-serem-asyik di perusahaan sebelumnya, saya terus terang sedikit skeptis tentang "fiercely loyal" di perusahaan. Bukan karena saya orangnya 'kurang setia', justru sebaliknya :) Yah karena memang perpisahan - that's sense of losing - selalu meninggalkan rongga kosong di dada. Paradoksnya, seperti berusaha untuk lebih membumi, perkataan ini lalu disertai dengan, "Of course we're not talking about lifetime employment here. It'd be too much to ask." It would? Hehe.. déjà vu.

Tapi, selama kita hidup di dunia ini, segala terms dan aturan yang kita hidupi memang sifatnya temporer. Hidup itu sendiri temporer. "Setia gila-gilaan" yang diharapkan pun temporer. Aktif menjadi pengerja di gereja sifatnya temporer. Memimpin kelompok sel yang sama proyeksinya 1-2 tahun saja. Pernikahan puun.. temporer - Sampai maut memisahkan :)

Jadi gimana, supaya nggak mengalami kehilangan, lebih baik nggak usah punya rasa memiliki? Hehe, klise, bukan barang baru. Saya yakin pasti ini terulas dengan menyeluruh di Filsafat 101.

Sejauh ini saya memilih untuk 'menempel' (getting attached) ketimbang 'menjauh' (getting detached). Buat saya, begini hidup jadi jauh lebih bermakna.

"Saya rindu di FA ini kita membagi hidup kita - sungguh-sungguh membagi hidup. Walaupun nggak tahu berapa lama kita bisa sama-sama di FA ini, 1 tahun, 2 tahun, 5 tahun.. Keinginan saya biarpun kita nantinya berpisah, kita tetap sungguh-sungguh menjadi saudara karena hidup yang kita bagi ini. Sama halnya dengan hidup yang kita bagi dengan rekan-rekan di FA kita yang sebelumnya."  Ini keputusan yang saya pilih menutup FA terakhir tahun lalu.

Ini juga langkah yang akan saya ambil di perusahaan saya yang sekarang, sebuah perusahaan yang baik. Dan sebuah langkah yang besar.

***

Soal pindahan rumah, ah ini juga salah satu keputusan yang harus diambil. Keputusan apakah saya akan bersedih dan tidak terima atas kehilangan yang akan kami alami, atau bersyukur karena kekayaan pengalaman baru yang akan Tuhan ijinkan terjadi di masa mendatang. Dan keputusan untuk percaya bahwa tahun ini adalah tahun kesaksian gereja dan tahun mukjizat. Dan, oh ya, berkat 100 kali lipat.. ^_^