Cerita Setengah Pendek bagian 3

Jam 11:35 lagi. Malam. Crazy deadline, not to mention crazy client. And crazy bosses. Oh well, the bosses are not really that crazy, everyone's just getting pressurized. Anyway memang nggak ada yang maksa gue harus pulang jam segini. Cuma, seperti biasa: nanggung. Uh, harus cepat berberes, kalau nggak bisa ketinggalan MRT lagi.

"What, you're going to stay back again tonight? C'mon, Hendra, it's your last week. Just do as needed and don't overdo it!" saran teman-teman setim gue tadi sore. Mereka  semuanya sudah tahu hari terakhir gue adalah Jumat ini. Ya gue cuma bilang, lihat aja ntar, begitu.

Wah, untung bisnya pas datang. Thanks, Lord. And now I hope the last train will wait for me, too.

Well, it does. 4 more minutes.

SMS atau nggak. SMS atau nggak. SMS.. atau nggak.. Nggak aja kali ye, ntar dia mikir macem-macem lagi.

Tapi.. SMS aja kali ye, biasanya jam segini juga masih SMS-an.

Ah elo Dra, jadi pusing-pusing begini. It's not like you have some crush on her or something. She's just cute. And although you do like girl being cute, you're best buddies. Best buddies SMS each other 'til late at night without worrying mistakening the other's feeling. Not Ratna, for sure. She's just nice... and cute. Not everyone's cute, but 'my' type of cute.

Heran, kepikiran dia terus belakangan ini. Apa karena gue mau keluar ya? And for some reason, we just got closer than before. Tapi padahal tiap minggu di gereja juga ketemu. Atau karena gue bakal pulang Sabtu depan? I miss her already? Miss her for what??? Miss her like I missed hanging out with Anto, Juned and Shelly?

Mereka juga sih rencana pulang nggak bilang-bilang. Jadinya tinggal gue berdua yang masih tertinggal. Hehe memang kampungnya beda sih.

Oh well, the train's here. I'm too tired to type on this slower-than-yours phone. And to think and worry too much tonight. Let's not do that. Maybe I'll just drop by some florist before work tomorrow, and schedule a bouquet for her a week after I leave. No sender's name, of course. This way I can cheer her up for the loads of work she needs to get done. Let her have some secret admirer or guess whether I or Anto send it for her.

Yeah, seems like a good plan. Hoaeem..

                            

Cerita Setengah Pendek bagian 2

"Ratna, it's superb! I really like the color composition. You are really talented! It would be perfect, however, if the logo is bigger and the fonts are changed to something more formal. Do you think you can change them and have it ready for the presentation tomorrow?"

Yah, sudah hafal deh: pasang tampang ceria, muji-muji, manggut-manggut, kritik, minta halus tapi maksa, jadinya harus besok. Nggak mungkin dong aku bilang "no can do, boss?" Kalau dipecat susah nyari kerjaan selama masih pegang S-Pass begini. Resiko.

Ambil sisi bagusnya, untung presentasinya bukan pagi. Dan lusa aku sudah cuti menemani Tasya yang dikirim training ke sini oleh kantornya. Jadi juga si ucrit datang ke Singapore. Ayo, semangat!

"Hehe disuruh ganti lagi ya? Lain kali bilang aja nggak mau.." celetuk Hendra, satu dari empat orang Indonesia di kantor ini. Hei, satu hal lagi yang patut disyukuri, walau gaji tidak fantastis, paling nggak I have great colleagues! Hmm, menghibur diri sendiri nih, hihi.

"Iya maunya sih gitu, tapi gue kan karyawati yang baik, nurut atasan," ujarku dengan tampang 'sesuci-sucinya'.

"Hahaha.. paling sejam lagi elo udah ngegerendeng sendiri, Rat," cengir Hendra, "Tapi ntar gue beliin cappuccino deh kalau elo udah mulai suntuk."

"Asiiik... bener loe yah, janji." Hendra cengengesan lagi.

Memang paling enak punya temen perhatian model si Hendra ini. Anaknya ngocol tapi baik. Di satu sisi pemikir berat, di sisi lain kadang suka bikin bingung dengan kecuekannya. Namun dia nggak pernah marah atau sebal, minimal denganku. Dimintai tolong apa saja mau. Padahal orangnya tipe malas-malasan begitu.

Platonic.

Heh, platonic? Hiiy serem. Masa sih aku dan Hendra punya hubungan yang platonic?? "It's complicated," begitu? Hahaha, nggak banget deh. Masih terlalu dini untuk punya relationship dengan cowok. Yap, terlalu dini.

Hmmph, tuh kan jadi keingetan Niko lagi. Udah ah, konsentrasi kerja. Ingat, sebentar lagi Tasya datang, bisa error bareng-bareng. Dan mungkin aku kenalin aja ke Hendra, kayanya cocok.

Cerita Setengah Pendek

Mataku memejam.

Keramaian masih membekas di jalan ini. Bahkan, sebenarnya baru setengah jam yang lalu restoran terakhir membereskan tendanya. Belum pagi, memang. Lampu kuning jalanan temaram di ketinggian. Beberapa orang masih lalang dengan tidak bergegas. Nasi tektek ngetem di mulut jalan kecil yang satu lagi. Pemandangan yang biasa.

"Hei, kamu diem lagi, Na."

Aku cuma tersenyum kecil. Mau apa lagi. Sobatku ini lebih daripada mengerti apa yang aku pikirkan sekarang. Kejadian sembilan bulan lalu dia juga tahu.

Waktu itu aku tidak menangis. Walau aku tahu Tasya menyiapkan bahunya untukku, yang keluar dari mulutku hanya kalimat pendek, "Aku sudahan dengan Niko." Lalu kami berdua diam. Lama sekali.

"Singapura pasti panas seperti Jakarta. Dan jaketku cuma berguna di ruangan AC." Dingin memang malam ini. I love Bandung for this. I love Bandung for Tasya, too. Dia hampir selalu berhasil mengalihkan perhatianku.

"Ya nggak juga kok. Nih buktinya bau asem karena selalu kupakai jalan ke Orchard siang-siang. Mau bukti?"

Tasya nyengir. Dan mencium keteknya sendiri sebelum membandingkannya dengan jaket abu-abu di bahuku. Lalu kami berdua cekakakan. Dasar anak gila.

---

Ceritanya mau nulis cerpen, tapi baru segitu aja sudah sejam. Hehe maklum nggak ada bahan setengah ngarang setengah nebak. Ya ntar kalau sempet dan niat, dan kalau tebakannya asik dilanjutin lagi dah.