Clingak-clinguk

Hehehe beneran cuman clingak-clinguk duank, ketepu yah :D
Dah lama gak ngeblog, sampe lupa kaya gimana gaya ngeblog ogut sendiri. Sibuk banget di kantor, herannya makin digempur makin semanget sekaligus makin banyak aja kerjaannya. Ntaran dah kapan-kapan diupdate lagi.

Atau mungkin update dikit dah bagi yang belum tahu: GT & Siska baru beli rumah. (Lagi proses sih).

Ta-ta.

                            

Jurnalisme Nggak Pernah Gampang

Baru sebulanan ini saya join sebuah milis baru.. lagi. Ehm, kayak kurang banyak aja gitu milis yang udah di-subscribe :P Tapi kali ini beda dan termasuk eye opener juga. Seperti judul kali ini, milis yang subscribe adalah tentang jurnalisme.

Milis ini ketemunya bener-bener nggak sengaja. Jadi, kronologisnya itu gini:

  1. Di milis yang lain, ada seseorang yang mengirimkan artikel nyeleneh berjudul "Teori Konspirasi Unyil". Yah, benar-benar ga penting gitu :)
  2. Karena ulasannya yang menyeluruh dan meyakinkan, alhasil saya dibawa jadi jadul dan iseng nyari informasi lebih lanjut tentang Unyil.
  3. Dari hasil pencarian, ternyata dibawa masuk ke salah satu blog yang tak lain tak bukan adalah seputar jadul. Nama blog-nya lapanpuluhan. Udah ketebak dong, ini blog tentang apa?? Perhatian: jangan kunjungi jika Anda memang sudah umurnya dan tipe-tipe yang suka nostalgila. Ntar lama di situ. Dari sini aja udah langsung ketemu milisnya dan settt.. subscribed.
  4. Arsip artikel-artikelnya langsung memutar pita-pita rekaman yang udah lama nggak diputar lagi di kepala. Tiba-tiba inget tentang majalah-majalah jadul termasuk tabloid yang sempet pemimpinnya sempet dipenjara karena kontroversi masalah angket, yaitu Monitor.
  5. Dari iseng mencari tentang kasus Monitor, alih-alih jadi nyasar ke salah satu blog jurnalis yang memuat interview dengan Mas Wendo, yang dulu ditahan itu.
  6. Nah dari blog jurnalis tersebut, ketemu deh link ke milis jurnalisme. Dan settt.. subscribed juga. Tapi subject to approval lho.

Lalu mulailah saya pelan-pelan diekspos dengan kenyataan bahwa menulis itu nggak gampang. Yup, bahkan nggak pernah gampang.

Sebenarnya menulis sih nggak terlalu susah. Apalagi sekarang, jamannya blog. Publikasi juga gampang. Istilah "media" pun jadi divergen. Menulis jadi "gampang". Dan ini salah satu basis saya menulis artikel ini: it's perceived way too easy that it's almost always taken for granted. Almost always.

Hehe, agak-agak strong sih kalau saya bilang "hampir selalu". Tapi ini cuma emphasis. Yang lebih saya maksudkan adalah: menulis itu ternyata ribet, ruwet, teknis tapi nyeni. Pun begitu, tingkat kecuekan dalam menulis bebas (ngeblog, milis) menurut saya kelewat tinggi. Memang akan selalu ada garis-garis tegas yang memilah jurnalisme dan bukan, seperti yang sempat saya bahas sebelumnya.

Ngomong-ngomong, ngeblog soal ngeblog apa nggak termasuk gak penting sih? Hehe, bisa jadi. Bisa jadi saya memang terlanjur hobby jadi pembawa informasi layanan masyarakat :P

Kalau sekarang saya nulis tentang nulis, sama sekali nggak berarti saya jadi jago nulis. Wuih, masih jauh ke mana-mana. Justru saya malah mau mberi tahu bahwa saya nulisnya mah masih parah-parah aja. Tapi saya tetep aja nulis gitu lho :)

Ngikutin posting-posting dari peserta milis jurnalisme (yang kebanyakan memang jurnalis dan wartawan) buat saya sangat mengasyikkan. Saya termasuk penikmat tulisan-tulisan yang bagus, beralasan, terstruktur, juga debat sehat. Lewat milis ini, saya menyaksikan bagaimana susunan grammar dan ejaan yang nggak terlalu dipusingkan salah, tetap bisa secara efektif dipakai untuk menyampaikan tulisan dengan bobot seorang jurnalis. Apalagi pengalaman berinternet dan bermilis yang menahun sudah mulai terasa jenuh dengan posting-posting pengguna baru (dan lama) yang kerap tidak netis. Di samping tulisan-tulisan bagus, ada juga bonusnya: cerita di balik berita.

Nah, soal cerita di balik berita, baru saja ada topik hangat nih. Thread-nya sudah 25 post lebih untuk subyek yang sama. Jadi ada seorang jurnalis yang mendapatkan informasi tentang suatu topik. Ah, langsung saya sebut aja ya topiknya: poligami. Nah kan masih anget tuh. Jurnalis ini singkat cerita berhasil mendapatkan informasi dan menuliskan beritanya. Ternyata ada cerita lain selama proses pencarian beritanya ini berlangsung. Permasalahannya, dia membagi pengalamannya ke milis, sementara narasumber sempat mengeluarkan pernyataan Off The Record (OTR). Yang menarik adalah, ternyata peserta milis terbagi dalam beberapa kubu: yang mengecam posting bahan OTR ke milis, yang mendukung posting OTR karena menilai OTR-nya kurang sah, ada yang menganggap milis bukan media massa sehingga bahan OTR boleh-boleh saja masuk ke milis, dan yang terakhir adalah yang enjoy-enjoy aja dapet informasi tambahan tapi nggak gitu paham teknis jurnalisme, yaitu pihak-pihak yang seperti saya :)

Sampai sekarang masih dalam pembahasan terus dan menurut saya alasan dari masing-masing kubu lumayan masuk akal dan bisa diterima. Jadi, belum tahu nih kesimpulannya gimana atau bahkan apakah bisa disimpulkan atau nggak. Semisalnya disimpulkan sah-sah aja bahannya disampaikan dan OTR-nya sendiri kurang sah, saya janji deh bakal sampaikan apa sih cerita di balik beritanya. Dibilang heboh sekali ya juga nggak sih. Tapi dibilang nggak heboh, ya lumayan juga sih hehehe..

Yang jelas, jurnalisme memang nggak gampang. Nggak pernah.

Blogging dan tanggung jawab

Tulisan saya kemarin di-reply oleh sepupu saya yang masih belia (hehe):

tp.. namanye esmosi.. masa ada posting noel kita, kite diem aje.. embat balekkk broo!! ^O^

Karena panjang, reply saya berikut ini jadi tulisan yang baru:

Istilah "darah muda" atau "folly of one's youth" itu ada bukan untuk menyudutkan orang-orang yang masih muda, tapi memang sejalan dengan waktu, ketika melihat ke belakang, sungguh kita bakal sering ngomong: "Duh, coba dulu gue gak gitu ya."

Itu pertama. Yang kedua, soal korespondensi di Internet, khususnya yang bisa dibaca publik (bukan japri) seperti blog dan forum/milis. Kita kadang lupa/cuek bahwa setiap post/reply yang kita buat itu konsumsi publik. "Everyone is entitled to her own opinion" itu benar tapi "Everyone is also to be held accountable to what she said or did". Apalagi dengan blog,

Sudah beberapa lama ini ada beberapa pihak yang "memusuhi" blog. Kenapa? Karena ternyata blog itu influential. Blog-blog yang populer bisa memperoleh 10-50 ribu pembaca setiap posting-nya. Ini baru blog individual. Tapi apa artinya sih 50 ribu dibanding jutaan pembaca, katakanlah, koran Kompas? Banyak artinya. Dalam blogosphere (dunia blogging), pembaca blog biasanya membaca banyak blog sekaligus. Kalau dia seorang blogger juga, maka hal-hal yang dia anggap menarik akan dia post dalam blognya. Begitu juga orang-orang yang membaca blognya. Demikian seterusnya sehingga dengan efek berantai, orang lain yang walaupun hanya pembaca pasif (bukan blogger), bisa menangkap "trend" atau opini "publik" tentang suatu hal. Sebuah blog dengan "hanya" 50 ribu pembaca sama sekali bukan suatu hal yang enteng.

Jadi kenapa "dimusuhi"? Ada dua alasan. Yang pertama mirip dengan media konvensional biasa, nggak setiap orang suka akan kolom gosip atau berita yang bisa merugikan kepentingan (perusahaan)nya, baik secara langsung maupun tidak langsung. Tentunya hal ini lumayan jelas bagi kita. Yang kedua, blog nyaris tidak diatur/teregulasi. Lho kok ngomong soal kontrol, sama dong alasannya dengan yang pertama? Nggak juga, ini dia yang sampai saat ini masih (dan akan terus) menjadi daerah abu-abu: blogging itu tidak sama dengan jurnalisme.

Banyak orang ngeblog untuk berbagai tujuan, ada yang sekedar untuk curhat (kepada siapa? teman-teman doang? lha kok gak di-protect sehingga hanya bisa dikonsumsi kalangan sendiri aja), ada yang menulis jurnal kesehariannya, ada yang menulis topik-topik khusus, ada juga yang secara langsung berkeinginan untuk membentuk opini publik. Khusus untuk yang terakhir, membentuk opini publik, ini nggak perlu melulu mengenai topik-topik besar: perang, politik, gempa, dsb. Yang saya maksud dengan membentuk opini "publik" ini bisa saja untuk masalah-masalah pribadi atau kelompok. Krusialnya, karena yang nulis adalah individu, masalahnya individu, awalnya ditujukan untuk konsumsi individu/kelompok, plus "everyone is entitled to his own opinion" yang tadi, banyak yang menganggap ini kan "terserah-terserah gue dong, gue yang nulis, sapa suruh elo baca" dan efek akhirnya ya itu, "Duh, coba dulu gue gak gitu ya" yang tadi juga.

Yang menjadi masalah utama menurut saya adalah: blog kita itu (bisa) dibaca oleh publik. Ketika sesuatu menjadi publik, dia menuntut atau memiliki kandungan tanggung jawab lebih daripada hal-hal yang sifatnya private. Inilah inti alasan yang kedua: kurangnya kepedulian akan rasa tanggung jawab untuk setiap post yang dibuat. Bandingkan dengan jurnalisme, you get the picture.

Wah repot bener kalo gitu, saya kan ngeblog buat hobby aja, kok musti diatur-atur kaya gitu?

Nggak juga, seperti yang saya bilang di atas: ini masih (dan akan terus) menjadi daerah abu-abu. Tentu saja blogging tidak akan pernah 100% sama dengan jurnalisme. Yang mau saya imbuhkan di sini cuma: be accountable, gunakan "akal sehat", pelihara "emosi" yang baik - dalam sikon apapun. Itu adalah blog Anda SENDIRI, tulisan Anda SENDIRI. Yang akan dibaca oleh banyak orang. Yang akan mempengaruhi banyak orang. Yang akan mempengaruhi diri Anda sendiri juga.

Update, nyiapin blog roadmap

Ya yang bener aja, Blog Paralel. Saya menepati ramalan saya sendiri untuk mentok di post November lalu. Dan sekarang saya bicara tentang blog "roadmap" *grin*

Ok, langsung saja, ini update terakhir:

  • Cuma nambah 1 post saja di blog ini Januari lalu. Dan ini nggak diterjemahin ke bahasa Inggris.
    Pelajaran: nulis dalam bahasa Inggris dulu, lebih gampang nerjemahin ke bahasa Indo.
  • Pindah rumah. Baru-baru ini. Puji Tuhan, mukjizat lagi: nggak lewat agen, ownernya orang Indo dan lumayan cocok sama kita, lokasinya bagus, ini juga rumah yang pertama kali (dan satu-satunya kalau saja nyonya nggak ngotot mau ngeliat-liat yang lain) kami lihat.
  • Saya dan Siska membersihkan rumah lama. "Apa hebatnya?" ya ya saya denger kok. Ini adalah sebuah prestasi. Prestasi besar. Terus terang kami lumayan kuatir kalau-kalau uang depositnya nggak kembali secara penuh kalau rumahnya nggak bersih (pengalaman pindah-pindah rumah 5 tahun ini, saya belum pernah dapat deposit utuh - yang mana bukan salah para landlord-nya sih :P). Soalnya istri pemilik rumah lama ini adalah seorang yang sangat-super rapi dan bersih. Waktu pertama datang untuk tinggal di sana, rumahnya sama sekali benar-benar tanpa noda. Pokoknya "ngeri" :D Awalnya saya kurang yakin apakah kami kerja sama yang efektif untuk membersihkannya. Tapi udah bersih sekarang. Benar-benar bersih. Total waktu yang dihabiskan: dari jam 1 siang sampai 11:30 malam. Benar-benar bangga bisa menjadi suami-istri yang baik :P
  • Pakai kertas lagi - tuh iPAQ ngadat lagi! Tapi memang sudah waktunya saya kembali retro. Lumayan, jadwal saya malah lebih teratur sekarang.
  • Kerja keras.

Selama itu, saya menemukan ide-ide, secara berkala berpikir dalam, dan mulai punya rencana-rencana yang dapat dipaparkan sebagai Blog Roadmap (tm) berikut:

  • Lebih banyak blog tentang sisi techie saya yang belum banyak dikupas, dimulai dari:
    • Ngeblog tentang Blogging & Blogosphere.
      Ini akan dalam format tutorial khususnya ditargetkan untuk teman-teman Friendster tercinta yang saya rasa masih bisa diberi "pencerahan".
    • Ngeblog tentang Firefox dan extensions-nya yang mantap-mantap.
      Soalnya baanyaak orang yang masih menggunakan IE yang ketinggalan jaman itu.
  • Pakai Linux.
    Yap, selamat tinggal, Windows. Partisi game akan kuhapus dan digantikan dengan Ubuntu semata-mata untuk meninggalkanmu. Pada dasarnya karena: Windows itu mahal dan Linux itu NGGAK. Sebenarnya ada alasan "mulia" dan tersembunyi lainnya yang nggak bisa dijelaskan sekarang. Jadi, ya, saya akan full pakai Linux di desktop mode. Tadinya saya mau nunggu 2 bulan lagi sampai Dapper Drake di-release tapi setelah ditegur oleh Pak Budi untuk "just get it done", boleh juga nginstall Flight 5 secepatnya. Malah sebenarnya, posting ini saya tulis menggunakan Kororaa Live CD yang baru di-download semalam buat ngetes Xgl (mantep, lihat saja screenshots dan video-nya).
  • Proyek hobi.
    Ini sebenarnya sudah jadi target sejak tahun lalu (malah lebih awal). Tapi sejak memakai WinForms di kerjaan, sekarang jadi lebih PD untuk mewujudkannya. Masalahnya nanti kalau sudah pakai Linux bakal susah develop di .NET lagi nih. Beberapa rencana proyek:
    • Praise & Worship Song/Lyric Library.
      Sebagai pemimpin pujian, salah satu tugas yang seringkali butuh waktu adalah memilih lagu. Sudah ada sih program-program yang bagus model OpenSong atau yang komersil lainnya tapi semuanya punya 1 kendala: hak cipta. Mmm, saya bukannya ingin telak-telak menganjurkan pembajakan, tapi kalau mau benar-benar jujur, rasanya kita selalu kepentok pada, batasan-batasan yang, imvho, nggak perlu. Malah kebanyakan, para hamba Tuhan sebenarnya sudah punya koleksi pribadi lagu-lagu/lirik yang menurut saya masuk ke dalam kategori fair use - atau setidaknya kategori "kalangan sendiri". Jadi misi saya adalah membuat koleksi "pribadi" bisa di-share secara p2p, kalau bisa lewat jaringan anonymous seperti Tor, di mana secara hati-hati juga di-design supaya benar-benar jatuh pada kategori "fair use" itu (atau minimal "kalangan sendiri" itu). Lebih lanjut tentang ini di posting yang akan datang.
    • Rekaman pribadi.
      Saya nyanyi dan main gitar. Seberapa bagusnya tentu tergantung kuping pendengar :D Tapi simple-nya saya merasa ini adalah sesuatu yang Tuhan sudah beri dan nggak bisa di-take for granted.
    • Cari tambahan.
      Ada 3 cara yang sedang saya lihat-lihat:
      • Pro blogging, dapet duit dari iklan, dsb.
      • Buat sebuah shareware yang dibutuhkan dan menguntungkan.
      • Buat sebuah aplikasi web yang dapat dibeli oleh Google atau Yahoo.
      • Selagi mereka lagi dalam mood ngebeli-beli, nggak ada waktu yang lebih tepat daripada sekarang untuk lompat ke dalam kereta web 2.0.

Ya kira-kira begitu dulu.

Blog paralel 2 bahasa

Sudah terlalu lama sejak saya terakhir ngeblog. Salah satu alasannya karena saya juga ngeblog dalam bahasa Inggris di blog saya yang satunya (yang 'resmi') - sebenarnya malah lebih sering ngeblog di sini sih. Alasan lainnya adalah: nikmatnya menunda (baca: males =P).

Setelah banyak dan lama hanya jadi pembaca blog-blog orang lain, saya memutuskan untuk ngeblog dalam dua bahasa secara paralel. Hmm.. sudah bisa diduga mungkin, bahwa pada akhirnya kebanyakan blogger dwibahasa akan ngeblog paralel dalam bahasa yang berbeda tersebut. Tapi nggak tau juga gimana yang tribahasa (atau lebih). Jadi, ini adalah percobaan yang pertama. Mudah-mudahan persentasi alasan yang pertama lebih besar daripada yang terakhir, kalau nggak ini bakalan jadi salah satu post yang terakhir sebelum masuk ke hibernation mode lagi.

Sebenarnya saya cenderung berpikir bahwa target pembaca 2 blog saya ini berbeda. Di sini, seringkali saya hanya mengoper informasi yang didapat dari del.icio.us dan blog-blog lain kepada teman-teman yang, ehm.. 'lebih gaptek' ketimbang saya =P  Sementara di Selah to Hagah, untuk melakukan hal yang sama (oper info) rasanya tidak memberi nilai tambah. Saya paham sih tentang efek 'trend/popularity setting' karena trackbacking/linking dsb dsb.. jadi yah emang dasarnya kurang rajin aja yak.

Walaupun saya selalu kurang suka dan melewati blog-cuma-kumpulan-link-doang, kali ini rasanya saya tidak bisa menghindar. Semoga nggak ngebosenin, berikut adalah hal-hal yang menurut saya menarik belakangan ini:

  • The Dilbert Blog
    Scott Adams, kartunis Dilbert, baru-baru ini mulai ngeblog. Tadinya saya tidak begitu yakin apakah dia bener-bener ngocol, tapi ternyata emang. Yang paling saya suka adalah waktu dia menjelaskan kenapa beberapa kartunnya harus diedit sehingga tidak seperti yang pertama ingin dia gambar. Banyak insight. Dia bahkan memberikan sebuah ebook gratis berjudul "God's Debris" dalam post-nya yang terakhir. Lumayan 'seru', meskipun saya setuju dengan banyak review di Amazon.com yang menyatakan buku ini tidak seperti diklaim: eksperimen pikiran. Minimal buat saya. Tapi bukunya tipis (128 halaman), jadi masih boleh lah.

Wah segini dulu yak - udah ngantuk. Yang lainnya nanti menyusul lain kali.